Sabtu, 01 Agustus 2009

allohu akbar,,,,,,, kekuasaan Mu bagitu besar sehingga membuat ku terpaku dan termenung untuk memikirnya ,,,,,
ya Alloh,,,,,
berilah hambammu ini kekkuatan untuk bisa menggapai ridha mu dengan pengharapan ku yang begitu besar kapada mu,,,,,
aku ingin lebih dekat dengan mu,,,,
dunia ini mempunyai banyak beribu ribu tipu daya oleh karena itu berilah aku kekukatan yang sangat besar agar diriku tidak terpancing oleh tipu daya,muslihat dunia ini,berbagai banyak golongan,berbagai banyak perbedaan,satu sukuk dengan suku lainnya,,,,
satu agama dengan bebrapa pemahaman yang membuat orang awam dalam bidang agama terombang ambing keyakinannya,,,,,,,,


Allohu Akbar,,,,,,,,,,,

Selasa, 09 Juni 2009

makalah tarekat

TAREKAT
MAKALAH
Diajukan untuk memenuhi salahsatu tugas mandiri pada mata kuliah Ahlak Tasawuf










Di sususn Oleh : Fajar Fauji F.
208 204 186






Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
Universitas Islam Negri Sunan Gunung Djati
Bandung
2009

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur Saya panjatkan kehadirat rabbi yang telah memberikan rahmat dan hidayah-nya kepada saya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini.
Ucapan terima kasih kepada dosen mata kuliah “Ahlak Tasawuf” yang telah memberikan tugas makalah ini kepada saya dengan judul “TAREKAT” sehingga saya dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan. Dan tidak lupa kepada teman teman yang telah memberikan motivasi dan seluruh lapisan yang telah membantu akan lancarnya makalah ini.

Di dalam pembuatan makalah ini saya menyadari masih banyak kekurangan dan kesalahan oleh sebab itu saya harapkan kritik dan sarannya,Sebagaimana ungkapan “tidak ada gading yang tak retak” mudah-mudahan makalah ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi kita semua umumnya.





Bandung ,27 Mei 2009



Penulis






BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang Masalah
Untuk mendekatkan diri pada tuhan maka harus menempuh jalan ikhtiar,salahsatu jalan ihtiar yaitu dengan mendalami lebih jauh ilmu tasawuf ,untuk mengetahui sesuatu maka pasti ada ilmunya,banyak dikalangan orang awam awam yang kurang mengetahui tentang ilmu mengenal tuhan (Tarekat). pengertian tentang tarekat yaitu,Tariqah adalah khazanah kerohanian (esoterisme), dalam Islam dan sebagai salah satu pusaka keagamaan yang terpenting. Karena dapat mempengaruhi perasaan dan pikiran kaum muslimin serta memiliki peranan yang sangat penting dalam proses pembinaan mental beragama masyarakat.Masuknya tarekat ke Indonesia bersama dengan masuknya Islam ketika wilayah Nusantara masih terdiri dari kerajaan-kerajaan melalui perdagangan dan kegiatan dakwah. Sumber-sumber Cina menyebutkan ada pembangunan pemukiman Arab dan boleh jadi pemukiman Muslim di pesisir barat Sumatera pada 54 H/674 M. Wilayah ini merupakan rute perdagangan penting Arab dan Cina, serta pelabuhan strategis bagi pedagang Arab, India dan Persia.
B.Rumusan Masalah
Dari paparan yang sudah di ulas maka dapat diambil sebuah rumusan masalah untuk memudahkan pembaca dalam pembahasan tentanng taekat,diantaranya adalah :

 Apa yang di maksud dengan Tarekat ?
 Bagaimana proses masuknya tarekat masuk ke nusantara ?
 Apa yang dimaksud tarekat naksabandiyah dan
 Berapa fase terbentuknya tarekat naksabandiyah ?
C.Tujuan Pembahasan
Adapun tujuan pembahsan adalah untuk mengetahui hal hal sebagai berikut :
 Memahami arti dari tarekat itiu sendiri ?
 Mengetahui lebih jauh tentang tarekat dan
 Mengetahui sejarah masuknya tarekat ke Nusantara ?



BAB II
PEMBAHASAN
TARIKAT
A.Pengertian Tarikat
Menurut salhsatu hadits nabi menyatakan :
عَنْ أَبِي رَبَاحٍ عن سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ أنه رأى رَجُلاً يُصَلِّي بَعْدَ طُلُوْعِ الْفَجْرِ أَكْثَرَ مِنْ رَّكْعَتَيْنِ يُكْثِرُ فِيْهَا الرُّكُوْعَ وَالسُّجُوْدَ فَنَهَاهُ فَقَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ أَيُعَذِّبُنِي اللَّهُ عَلَى الصَّلاَةِ قَالَ لاَ وَلَكِنْ يُعَذِّبُكَ اللَّهُ بِخِلاَفِ السُّنَّةِ
“Riwayat dari Abi Rabah, dari Sa’id bin Musayyab, bahwa dia melihat seorang lelaki shalat setelah terbit fajar, lebih banyak dari dua raka’at, dia memperbanyak ruku’ dan sujud, maka Sa’id bin Musayyab melarangnya, lalu orang itu bertanya: Wahai Abu Muhammad, apakah Allah akan menyiksaku karena shalat? Sa’id menjawab: “Tidak, tetapi Allah akan menyiksamu karena (kamu) menyelisihi sunnah.” (1)

Ini termasuk jawaban bagus dari Sa’id bin Musayyab rahimahullah, yaitu senjata yang kuat menghadapi pelaku bid’ah, yang menganggap baik banyaknya bid’ah, dengan nama dzikir dan shalat, kemudian mereka mengingkari ahlis sunnah, dengan tuduhan tidak doyan dzikir dan shalat. Padahal ahlis sunnah itu sebenarnya hanyalah mengingkari penyimpangan mereka dari sunnah dalam dzikir, shalat, dan sebagainya.
Dari uraian di tas maka dapat di ambil sebuah pengertian tentang tarekat yaitu,Tariqah adalah khazanah kerohanian (esoterisme), dalam Islam dan sebagai salah satu pusaka keagamaan yang terpenting. Karena dapat mempengaruhi perasaan dan pikiran kaum muslimin serta memiliki peranan yang sangat penting dalam proses pembinaan mental beragama masyarakat. Selama ini, merasa terbelenggu oleh berbagai kecendrungan materialistis dan nihilisme moderen yang orientasinya mengacu kepada kemudahan, kenyamanan dan fasilitas hidup yang menyenangkan serta dapat dinikmati dengan leluasa yang pada kenyataanya tidak selalu mendatangkan kesejahteraan dan kebahagiaan ummat. Namun justru pada sebagian orang yang menganutnya menimbulkan ketenangan jiwa dan kemampuan spritual bagi dirinya.

Untuk menghindari adanya trauma pada sebagian masyarakat, dengan kondisi di atas dan untuk mewujudkan sikap serta mental agamanya, maka dibutuhkan suatu pembinaan khusus melalui penddikan yang khusus pula secara sistematis, terarah dan kontiniyu yang lebih berorientasi pada kehidupan kerohanian yang dapat dijadikan pokok bagi mereka (masyarakat) di dalam memandang segala persoalan-persoalan kehidupan.
Thariqat dapat dikatakan sebagai jalan menuju Tuhan. Dengan menekuni thariqat merupakan suatu jalan untuk mendekatkan diri kepada sang pencipta secara lebih sempurna, Artinya dengan berthariqat seseorang akan melakukan ajaran-ajaran (syari'at islami dengan lebih sempurna serta ajaran Allah dan Rasulnya). Hal ini sejalan dengan makna thariqat yang berkembang dikalangan para ahli thariqat yaitu : "jalan atau petunjuk dalam melakukan suatu ibadah sesuai dengan ajaran yang dibawa oleh Rasulullah SAW dan yang diceritakan beliau dan para sahabatnva. serta para tabi'in, ulama, kyai-kyai secara bersambung hingga pada masa sekarang ini". (Zahri, 1973 :56)
Dari pengertian thariqat di atas dapat dipahami bila dengan berthariqat, maka sesungguhnya syaria'at yang dikerjakan dapat berjalan di atas rel yang hiras tidak terpeleset, tidak jatuh jurang kesesatan, sehingga dapat sampai ke tujuan hidup yang sebenarnya, yaitu Allah Swt.
Thariqat sebagaimana yang lazim dikerjakan oleh para jama'ah mempunyai tujuan yang sangat mulia bagi kehidupan. Baik di diunia maupun di akherat, dengan cara antara lain:
a. Dengan mengamalkan thariqat berarti mengadakan latihan jiwa (riadhoh) dan berjuang melawan hawa nafsu (mujahadah), membersihkan diri dari sifat-sifat yang tercela dan diisi dengan sifat-sifat yang terpuji dengan melalui perbaikan budi pekerti dalam berbagai seginya.
b. Dengan bertariqat dapat mewujudkan rasa ingat kepada Allah Zat Yang Maha Besar dan Maha Kuasa atas segalanya dengan melalui jalan mengamalkan wirid dan dzikiran dan dibarengi dengan tafakkur yang secara teras-menerus
c. Dengan bertariqat akan tirnbul perasaan takut kepada Allah sehingga timbul pula dalam diri seseorang itu suatu usaha uxituk menghindarkan diri dari segala macam pengaruh duniawi yang dapat menyebabkan lupa kepada Allah.
d. Jika thariqat dapat dilakukan dengan penuh ikhlas dan ketaatan kepada Allah, maka akan tidak mustahil dapat dicapai suatu tingkat alam ma'rifat, sehingga dapat diketahui pula segala rahasia dibalik tabir cahaya Allah dan Rasulnya secara terang benderang. (Anwar, 1980 :12)
Dari pengertian dan tujuan thariqat di atas dapat dipahami bahwa thariqat dengan segala bentuk ajarannya akan mampu melahirkan manusia-manusia yang mampu mengetahui hakikat dirinya, hakikat. syaria'at islam yang diturunkan kepadanya dan akhirnya akan mengenal sifat-sifat Tuhannya. Dari kesadaran yang dimiliki tersebut akan terbentuk manusia-mamisia yang merniliki kesadaran yang sempuma dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya atau dengan kata lain bahwa melalui thariqat akan tercipta mannsia-manusia yang paripuraa atau yang sering disebut sebagai insan kamil yang nantinya akan mampu mengembangkan tugas-tugasnya secara sempurna, baik tugasnya sebagai khalifah filard maupun tugasnya sebagai hamba Allah.
Guna tercapainya tujuan tliariqat secara kaffah hams dilalui beberapa hal yang lekat kaitannya dengan ajaran thariqat itu sendiri, yaitu ajaran-ajaran dan tingkatan-tingkatan thariqat. Secara umum di dalam ajaran thariqat memiliki beberapa ajaran. Lebih spesifik lagi yang terkait dengan fokus penelitian, dalam thariqat Nagsyabandiyah di kenal beberapa ajaran-ajaran seperti: Zikrullah (mengingat Allah), baik zikir lisan dengan menyebut "Allah" dengan bersuara maupun zikir qalbi dengan mengingat atau menyebut "Allah" dalam hati (tidak bersuara)

B.Masuknya Tarekat ke indonesia
Masuknya tarekat ke Indonesia bersama dengan masuknya Islam ketika wilayah Nusantara masih terdiri dari kerajaan-kerajaan melalui perdagangan dan kegiatan dakwah. Sumber-sumber Cina menyebutkan ada pembangunan pemukiman Arab dan boleh jadi pemukiman Muslim di pesisir barat Sumatera pada 54 H/674 M. Wilayah ini merupakan rute perdagangan penting Arab dan Cina, serta pelabuhan strategis bagi pedagang Arab, India dan Persia.
Gelombang perpindahan besar-besaran umat Islam berikutnya terjadi pada 264 H/878 M, akibat pemberontakan Huang Chao di Cina Selatan di mana sekitar 120 atau 200 ribu pedagang dari barat – sebagian besar Muslim – dibunuh. Sebagian yang selamat melarikan diri ke Kalah di pesisir barat semenanjung Malaysia serta di San-fo-chi (Palembang). Perkampungan pedagang Muslim lainya disebutkan terletak di Champa pada 430 H/1039 M dan di Jawa 475 H/1082 M. Sungguhpun banyak perkampungan Muslim, terkesan tidak ada kegiatan dakwah yang menonjol hingga akhir abad 7 H/13 M. Baru terjadi kegiatan dakwah yang meningkat pada awal abad 8 H/14 M dan terus menguasai seluruh kepulauan dalam abad berikutnya. Mengapa?
Kegiatan dakwah yang bangkit sejak awal abad 8 H/14 M dan terus berkembang, dimotori oleh kaum sufi. Dalam hikayat lokal dan tradisi-tradisi lisan, terdapat banyak keterangan tentang faqir (darwis), wali (orang suci), dan syekh (guru) di kalangan penyebar awal Islam di berbagai wilayah selama abad 7 – 8 H/13 – 14 M. Semua ini adalah istilah teknis yang terdapat dalam kosakata tasawuf, yang tetap dipertahankan, sehingga memberi kesan kuat bahwa para penyebar ini adalah kaum sufi.Gerakan dakwah Muslim telah berjalan di pesisir timur Jawa di wilayah Gresik yang dipimpin Maulana Malik Ibrahim yang merupakan keturunan dari Zain Al Abidin, seorang cicit Nabi. Konon dia tinggal di Jawa sebagai juru dakwah selama lebih dua puluh tahun, yang diteruskan oleh anak keturunannya seperti Sunan Giri, Sunan Bonang dan Sunan Drajat. Ada pendapat, islamisasi Jawa tidak lepas dari peran penting Malaka. Sebagai contoh, Sunan Giri dan Sunan Bonang telah belajar di Malaka selama setahun dibawah bimbingan Syekh Wali Lanang.
Ketika Malaka jatuh ke tangan Portugis, Aceh menjadi penerusnya sebagai pusat perdagangan Muslim. Aceh mencapai puncak dalam bidang militer dan kekuatan perdagangan serta menyaksikan pertumbuhan tasawuf, yang melahirkan zaman keemasan peradaban Melayu, khususnya menyangkut intensitas kehidupan intelektual dan spiritual. Selama itu hiduplah sufi-sufi Melayu besar seperti Hamzah Al Fanshuri dan Syams Al-Din Al-Sumatrani, dan diikuti oleh figur-figur sufi seperti Nur Al-Din Al-Raniri dan Abd Al-Ra’uf Singkel. Melalui sejumlah tulisan dan penyebaran tarekat-tarekat sufi, mereka memberikan kontribusi signifikan pada islamisasi Kepulauan Nusantara.
Tarekat yang pernah berkembang di Indonesia cukup banyak, akan tetapi sebagian daripadanya hanya tinggal nama. Memang untuk sampai pada kesimpulan apakah tarekat itu masih ada, mengajarkan dan melakanakan amalan secara lengkap, dan apakah masih ada pengikutnya, perlu penelitian lebih mendalam .
Menurut satu sumber, dewasa ini di seluruh dunia ada 43 macam tarekat, Apakah semuanya ada di Indonesia? Lagi-lagi perlu penelitian lebih mendalam. Beberapa tarekat yang popular di Indonesia hingga sekarang, antara lain : Tarekat Tijaniah, Tarekat Sanusiah, Tarekat Syadziliyah, Tarekat Sammaniyah,Tarekat Syattariyah, Tarekat Qadiriyah, Tarekat Khalawatiyah, dan Tarekat Naqsyabandiyah.
C.TAREKAT NAQSYABANDI
Terbentuknya tarekat naqsyabandi melalui beberapa fase. Fase pertama, Pra Sejarah berdirinya tarekat Naqsayabandiyya, belum punya identitas. Fase kedua, Periode Formasi Tarekat Naqsyabandi, terlihat identitasnya sebagai sebuah perkumpulan persaudaraan sufi. Fase ke-tiga, periode perkembangan dan penyebaran Tarekat Naqsyabandi, menjadi sebuah perkumpulan besar yang terorganisir dengan baik dan rapi.
Salah satu Karakter tarekat Naqsyabandi adalah tergambar melalui fakta bahwa kesesuaian-nya dengan hukum-hukum Islam merupakan suatu hal yang teramat penting dalam perkumpulan ini. Ketaatan yang mendalam terhadap hukum-hukum syariat adalah thema yang sering di tekankan oleh banyak kalangan Naqsyabandi dalam mendefinisikan jalan mistik mereka.
Ada 3 fase periode pembentukan Tarekat Naqsyabandiyya.
Fase pertama, Pra Sejarah berdirinya tarekat Naqsayabandiyya.
Pada fase pertama periode pra sejarah Tarekat Naqsyabandi di sebutnya sebagai “Periode protohistoris” . Disebut sebagai periode protohistoris karena Tarekat Naqsyabandi pada masa itu belum mempunyai identitas, karena tokoh-tokohnya atau garis Silsilahnya tidak dianggap sebagai eksklusif milik Tarekat Naqsyabandiyah yang menggunakan paham sunni Salah satu contoh-nya adalah Saidina Ja’far as-Sodiq. Dia adalah Imam Syiah ke 6 dari garis keturunan Ayahnya Imam Baqir sebagai Imam syiah ke 5, akan tetapi dari garis keturunan Ibunya ia adalah cucu saidina Qosim Bin Muhammad Bin Abu Bakar as-Siddiq, dan cicit dari Abu Bakar Siddiq. Imam Ja’far as-Sodiq dalam transmisi ke Ilmuawannya lebih condong ke Ibunya putrid Saidina Qosim dan mengenal Ilmu-ilmu Agama langsung dari kakeknya Saidina Qosim.
Pada periode protohistoris ini, Tarekat Naqsyabandi juga disebut sebagai Tarekat Uwaysi. Disebut demikian karena inisiasi (bay’ah) tidak selalu di lakukan oleh mursyid yang masih hidup dan selalu hadir secara fisik, akan tetapi inisiasinya dapat dilakukan oleh mursyid yang kehadirannya secara spiritual (Rohanyah) baik syeakh yang masih hidup maupun syeakh yang sudah meninggal sekalipun atau pula melalui Nabi Khidir.Dinamakan Tarekat Uwaysi berkenaan dengan tokoh rohani atau spiritual pada zaman sahabat, yaitu Uwaysi al-Qorni. Disebutkan bahwa Uwaysi al-Qorni selalu berjumpa dengan Nabi walaupun tidak pernah berjumpa secara fisik, perjumpaanya selalu melalui perjumpaan rohani.
Fase kedua, Periode Formasi Tarekat Naqsyabandi
Pada fase kedua ini, sejarah Tarekat Naqsyabandi mulai terlihat identitasnya sebagai sebuah perkumpulan persaudaraan sufi. Identitas Tarekat Naqsyabandi berawal atau bersumber dari Guru Sufi besar yang hidup se-zaman dengan Muhiddin Abu Muhammad Abdul Qadir bin Abi Saleh Zangi Dost Jilani (Syaikh Abdul Qadir al-Jailani), yaitu Syaikh Abu Ya’kub Yusup al-Hamadani (w 1140 M).
Syaikh Abu Ya’kub Yusup al-Hamadani, memiliki 2 orang murid yang sekaligus sebagai khalifahnya dalam menyebar luaskan ajaran-ajarannya, yaitu Syaikh Ahmad al-Yasawi (w 1169 M), dan Syaikh Abdul Khaliq Gujdawani (w 1220 M).
Syaikh Ahmad al-Yasawi sebagai khalifah menyebarkan ajaran gurunya dengan membentuk suatu perkumpulan persaudaraan sufi, yaitu Tarekat Yasawi. Yang penyebarannya dari Asia tengah hingga Turki dan Anatolia.Sedangkan Syaikh Abdul Khaliq Gujdawani dalam menyebarkan ajaran gurunya di lakukan dengan membentuk Tarekat Kwajagan (cara khoja atau guru). Adapun penyebarannya berada pada sekitar daerah Transoksania.
Fase ke-tiga, periode perkembangan dan penyebaran Tarekat Naqsyabandi
Pada periode ini, Tarekat Naqsyabandi telah menjadi sebuah perkumpulan besar yang terorganisir dengan baik dan rapi. Pengikut-pengikut Tarekat Naqsyabandi tidak hanya orang-orang yang menginginkan dan mencari pengetahuan spiritual, akan tetapi sejumlah ahli figih, ahli tafsir dan ahli hadist berbai’at kepada Syaikh Baha’ al-Din. Sederet Nama besar ahli Agama menjadi khalifah Syaikh Baha’ al-Din, seperti Khwaja Ala’ al-Din al-Aththar (w 1400) seorang ahli hadist, dan theology Islam, Khwaja Muhammad Parsa (w 1419) seorang ahli tafsir Al-Quran, dan bersama Ya’qub al-Charki menulis Tafsir Al-Quran, Khwaja Sa’id al-Din Kasyghari (w 1459) seorang teolog dan ahli Filasafat. Pada periode ini yang paling menonjol adalah murid dan sekaligus seorang khalifah Ya’qub al-Charki, yaitu Syaikh Nasaruddin Ubaidullah al-Ahrar as-Samarqandi (w 1490) yang kemudian menjadi penerus kemursyidan tarekat Naqsyabandi generasi ketiga Syaikh Baha’ al-Din.
Syaikh Nasaruddin Ubaidullah al-Ahrar sebaga mursyid ke 18, dalam suksesi kemursidan. Pada masa kepemimpinannya, Tarekat Naqsyabandi telah tersebar dan menguasai hampir seluruh wilayah Asia Tengah meluas ke Turki dan India. Kemudian telah berdiri beberapa pusat perkumpulan (cabang), seperti China, Chiva, Taskend, Harrat, Bukhara, Iran, Afganistan, Turkistan, Khogan, Baluchistan, Iraq, India.
Pada periode ini, Tarekat Naqsyabandi mencapai puncaknya ketika suksesi kemursidan di pegang oleh Syaikh Ahmad al-Faruqi Sirhindi (w 1624) sebagai mursyid ke 23. Syaikh Ahmad al-Faruqi Sirhindi adalah seorang Teolog terkemuka di Dunia dan pemikir yang berilyan. Ia adalah murid kesayangan karena kecerdasannya, kesuhudan dan keshalehannya, dan di hormati karena ketinggian Ilmunya dan pemikirannya yang sangat cemerlang dari seorang guru sufi besar, al-Qutub Syaikh Muhammad Baqi Billah (w 1603) mursyid ke 22 Tarekat Naqsyabandi yang bermukin di India..


BAB III
SIMPULAN

Tarekat ialah masa penyucian (tashfiyyah, eliminasi) dan fokus pada kebenaran dengan penuh kemantapan, maka spontan ia telah memperoleh kebersihan jiwa berkat pertolongan satu jadzab dari sekian banyak jadzab Tuhan Yang Maha Pengasih. mereka lakukan berbentuk bulat tidak persegi.
Masuknya tarekat ke Indonesia bersama dengan masuknya Islam ketika wilayah Nusantara masih terdiri dari kerajaan-kerajaan melalui perdagangan dan kegiatan dakwah. Sumber-sumber Cina menyebutkan ada pembangunan pemukiman Arab dan boleh jadi pemukiman Muslim di pesisir barat Sumatera pada 54 H/674 M. Wilayah ini merupakan rute perdagangan penting Arab dan Cina, serta pelabuhan strategis bagi pedagang Arab, India dan Persia.
Terbentuknya tarekat naqsyabandi melalui beberapa fase. Fase pertama, Pra Sejarah berdirinya tarekat Naqsayabandiyya, belum punya identitas. Fase kedua, Periode Formasi Tarekat Naqsyabandi, terlihat identitasnya sebagai sebuah perkumpulan persaudaraan sufi. Fase ke-tiga, periode perkembangan dan penyebaran Tarekat Naqsyabandi, menjadi sebuah perkumpulan besar yang terorganisir dengan baik dan rapi.
Salah satu Karakter tarekat Naqsyabandi adalah tergambar melalui fakta bahwa kesesuaian-nya dengan hukum-hukum Islam merupakan suatu hal yang teramat penting dalam perkumpulan ini.
Ada 3 fase periode pembentukan Tarekat Naqsyabandiyya.
Fase pertama, Pra Sejarah berdirinya tarekat Naqsayabandiyya.
Fase kedua, Periode Formasi Tarekat Naqsyabandi
Fase ke-tiga, periode perkembangan dan penyebaran Tarekat Naqsyabandi.

DAFTAR PUSTAKA

Kabbani, M.H. Classical Islam and the Naqshbandi Sufi Tradition. Fenton, Mich.: Islamic Supreme Council of America. 2004

Nazim, Shaykh M. On the Bridge to Eternity. Kuala Lumpur: Planet Ilmu Sdn. Bhd. 1999

Sri Mulyati,2004,Mengenal dan memahami TArekat TArekat Muktabaroh di Indonesia,Kencana,Jakarta

ww.yahoo.co.id

saha urang sunda teh luR?

SAHA ARI URANG SUNDA TEH
Hiji waktu nu geus kalaiwat dina riungan para tokoh Urang Sunda jeung sawatara anggota DPRD Prop. Jabar basa ngabahas “milih pigupernureun/wagup Prop. Jabar”, ti antara anu hadir aya nu nanyakeun ka anggota DPRD Prop. Jabar tea, saha jeung nu kumaha anu disebut SUNDA teh. Ti antara anggota DPRD Prop. Jabar nu aya harita saurang oge taya nu bisa nerangkeun kalawan jentre. Ieu kaaayan teh ngagambarkeun yen wawakil rayat Sunda teh dina buktina mah henteu apaleun kana saha jeung naon anu diwakilanana. Estu pikasediheun pisan. wawakil urang Sunda teu ngartieun kana saha jeung naon ari SUNDA teh.
Padahal upama eta anggota dewan teh daek leukeun jeung sok daek maca buku nu tumali jeung Sunda atawa Kabudayaan Sunda, tangtu bisa ngajawab kana eta pananya. Aya sawatara buku anu kudu dibaracana, tur saenyana henteu loba diantarana bae:
 Pandangan Hidup orang Sunda, karya tulis Dr. Yus Rusyana dkk. Depdikbud, 1988/1989.
 Kebudayaan Sunda. Dr. Edi S. Ekadjati, Dunia Pustaka Jaya, 1986.
 Sejarah Sunda I, Drs. R. Ma’mun Atmamihardja, Sumur Bandung 1956.
 Dangiang edisi 1/1999.
Tah dina eta buku bakal kaguar naon ari SUNDA.Tapi sigana boa-boa henteu ngan wungkul para wakil rayat anu jadi anggota DPRD Prop. Jabar bae nu can apal kana harti jeung ma’na kecap Sunda teh, teu mustahil karereanana urang Sunda oge can kungsi apal. Ku kituna mah atuda bongan bae di sakola-sakola boh anu formal boh non formal henteu kungsi diajarkeun SAJARAH SUNDA, (kajaba di lingkungan YPDM Pasundan jeung Yayasan Atikan Sunda) - Kacida pikasediheunana, ari sajarah karajaan-karajaan di Tatar Jawa, ti mimiti Erlangga tepi ka Sultan Hamengkubuwono X, urang kungsi diajar; diarapalkeun malah diujikeun, tapi ari sajarah karuhun urang pribadi kaluli-luli). Mangkaning ceuk Sajarahwan/Sosiolog ti Eropa, Miland Kundera, nyebutkeun, yen pikeun ngaleungitkeun hiji bangsa (seler bangsa), leungitkeun bae kareueus kana sajarahna pribadi. Tah kajadian ieu pisan anu ayeuna tumiba ka urang Sunda teh, teu apaleun kana sajarahna pribadi, jajauheun kana ngarasa reueus mah.
Nurutkeun pamanggihna para ahli nu ditataan di luhur ngeunaan saha ari Urang Sunda bisa dicindekkeun saperti ieu di handap.

Hiji jelema dianggap URANG SUNDA lamun cumpon kana salasahiji pasaratanana, nyaeta:
1. Upama dirina ngarasa jadi urang Sunda.
2. Upama ku batur disebut yen manehna teh urang Sunda.
3. Upama indung jeung bapana asli, tulen, PITUIN urang Sunda.
4. Upama jelema anu sanajan indung bapana lain Urang Sunda, tapi tingkah laku, cara mikir jeung hirup kumbuh sapopoena peresis saperti Urang Sunda.
Upama kitu ukuranana, nya atuh ayeuna mah gampang bae, kari urangna masing-masing bisa nyumponan salasahiji tina opat perkara di luhur. Upama dipedar leuwih jembar bisa dihartian kieu:
1. UPAMA DIRINA NGARASA JADI URANG SUNDA

Hiji jelema kakara boga rasa jadi urang Sunda, lamun inyana ngarasa yakin yen jiwana, hirup-huripna, lahir batinna, komo jeung turunan ti indung-bapana pituin urang Sunda. Pikeun miboga RASA jadi urang Sunda, nya kudu hirup di lingkungan anu NYUNDA (mibanda karakter Sunda), ngomong sapopoe basa Sunda, etika jeung etiket, budipekertina Nyunda, konsep hirupna (Visi jeung Misina) nangtung dina tatapakan Sunda. Jeung sauumur salawasna bajoang pikeun nanjeurkeun ajen inajen jeung perilaku anu Nyunda. Ngan anu sok dipikahariwang teh nyaeta lamun jadi Sunda anu heureut deuleu pondok lengkah, heureut ku sateukteuk, kurung batok. Nu kieu bakal jadi Sunda eklusif, tegesna bisa tigebrus kana etnosentris anu heureut, Jingoisme, Ubber Alls (ngarasa diri jadi seler bangsa anu pangunggulna). Karuhun Sunda geus mapagahan yen ulah jadi SUNDA ANU SARUBAK JAMANG, tapi kudu SUNDA ANU ANU SAAMPAR JAGAT (Jamang=baju).
2. UPAMA KU BATUR DISEBUT YEN MANEHNA TEH URANG SUNDA

Upama nurutkeun ukuran anu ieu, nu disebut Sunda atawa urang Sunda teh kumaha ceuk tetelahan ti batur. Ieu sipatna leuwih obyektif. Biasana pangna disebut kitu teh kulantaran indung-bapana urang Sunda, atawa dumeh cicing di tatar Sunda. Sok aya urang Sunda pribadi anu sigana era upama disebut urang Sunda ku batur teh da geuning upama aya nu nanya kieu:

“Kamu orang Sunda yah?”

Ari dijawabna teh ” Bukan saya mah Orang Indonesia ”

Eta jajawaban ngagambarkeun kateusadaran jeung henteu tumampi jadi urang Sunda (ieu patojaiah jeung eusina Ar.Ruum ayat 22). Saenyana kudu dibedakeun antara harti kecap BANGSA jeung harti kecap RAYAT (Rakyat). Ari “Bangsa” mah nuduhkeun kana sistem budaya (kultur jeung peradaban); ari “rayat (rakyat)” mah nuduhkeun kana cacahjiwa (penduduk) dicirian ku nomer KTP. Jadi kuduna ngajawab teh kieu:

“Benar saya orang Sunda yang menjadi Rakyat Indonesia” - Kitu kuduna mah, ngan geus salah kaprah tea. Padahal ari nu salah mah kapan kudu dibebener deui, diomean.
3. UPAMA INDUNG BAPANA PITUIN URANG SUNDA

Kacida bagjana pisan jelema anu indung bapana terah Sunda pituin, komo upama jeung hirup huripna, campur gaul sapopoena dina tatapakan anu NYUNDA. Malah di urang mah aya kasebutna yen tujuh turnanana oge terah Sunda asli. Tapi sigana ari tepi ka tujuh turunan mah (bapa/indung, nini/aki, uyut, bao, janggawareng, canggah, udeg-udeg, kait siwur) mah jauh teuing. Sigana ku semet indung jeung bapa oge cukup. Anu penting mah bari jeung hirup hurip sapopoena katangar Nyunda. Sarta anu pangpentingna tina kahirupan anu Nyunda teh nyaeta di imah jeung di lingkunganana ngagunakeun BASA SUNDA pikeun alat komunikasina. - Di kota-kota nu aya di Tatar Sunda, hususna di Bandung, pangpangna anu hirup di kompleks perumahan geus kurang pisan kulawarga anu ngagunakeun basa Sunda di imahna -
4. UPAMA JELEMA ANU SANAJAN INDUNG BAPANA LAIN URANG SUNDA, TAPI TINGKAH LAKU, CARA MIKIR JEUNG HIRUP KUMBUH SAPOPOENA PERESIS SAPERTI URANG SUNDA
Ayeuna mah meureun nu disebut urang Sunda MUKIMIN. Disebut Mukimin teh pedah geus mukim (cicing, matuh) di tatar Sunda. Tapi sanajan kitu kudu dibarengan ku tingkah laku, cara mikir jeung hirup kumbuh sapopoena ceples saperti urang Sunda. Can disebut Sunda Mukimin, upama ukur pedah cicing di tatar Sunda, tapi ari perilaku, pasipatan, ngomong, cara mikir jeung hirup kumbuh sapopoena can saperti Urang Sunda.
Jadi teu bisa disebut Sunda Mukimin, upama imah-imahna dipager luhur tepi ka teu wawuh jeung tatangga, embung milu ngaronda, embung kerja bakti kajeun muruhkeun, embung jadi RT atawa RW, nyieun kelompok/komunitas anu ekslusif, tara milu upacara agustusan jste.
Saenyana di pakumbuhan Urang Sunda geus kaitung rea para mukimin anu kacida gede kanyaahna ka Ki Sunda, upamana bae:
 Dalang Apek Gunawijaya, eta teh dalang kahot meles urang Cina (ngaranna oge Apek kapan). Dalang Apek kawentar pisan dina taun opatpuluhan jeung limapuluhan mah.
 Bapa Sutisna Senjaya, tokoh ti organisasi Daya Sunda, hiji-hijina wakil GERPIS (Gerakan Pilihan Sunda dina Pemilu taun 1955) anu jadi wakil di Konstituante jaman Sukarno. Anjeunna wantun pidato dina sidang formal Konstituante ku BASA SUNDA, sarta mokalan ngadegkeun kalawarta Kudjang babarengan jeung Bp. R. Ema Bratakoesoema, Bp. Prof. Ir. R.Otong Kosasih. Ari bapa Sutisna Senjaya (Sutsen) teh wedalan Pekalongan alias tiang Jawi.
 Bapa Endang Saefuddin Anshari (Alm), terah Padang meles, tapi di mana wae, jeung iraha bae upama biantara teh sok ku basa Sunda bae. Tatakramana kacida nyundana (pupus taun 90-an).
Tangtu aya keneh Urang Sunda Mukimin anu upama dibandingkeun jeung urang Sunda Pituin oge jauh tangeh leuwih nyaahna ka Sunda. Ka para Sunda Mukimin anu saperti kieu, urang wajib ngajenan jeung mihormatna.
Minangka panutupna tulisan bagian ka-1 ieu, aya nu perlu pisan dipiinget ku urang sarerea, rek keur urang SUNDA PITUIN rek keur SUNDA MUKIMIN, yen ari pikeun kalungguhan Pupucuk Pamarentahan Masarakat Urang Sunda mah, aya nu kudu dicekel pageuh, nyaeta para pamingpin di unggal daerah (Propinsi, Kabupaten, Kota, Kacamatan, Desa), eta teh lain ngan ukur jadi PAMINGPIN STRUKTURAL FORMAL wungkul tapi oge jadi CICIREN (ICON) TI MASARAKAT ADAT SUNDA. Jadi kacindekanana pikeun pamingpin di Tatar Sunda mah kudu bisa nyumponan kana ukuran (kriteria) nomer 1, 2 jeung 3. Tapi upama kapaksa-kapaksa teuing mah henteu cumpon tilu pasaratan tea, dua pasaratan mah mutlak kudu digunakeun, nyaeta pasaratan no 1 (Ngarasa dirina teh Urang Sunda) jeung no 2 (Ku batur disebut manehna teh Urang Sunda). Hal ieu teh taya lian pikeun salasahiji tarekah geusan repeh rapih, lulus banglus, tata tengtrem karta raharjana Tatar Sunda jeung Bangsa Sunda sabage salasahiji ti masarakat rayat Indonesia. Upama nu dua ieu kacumponan, insya-Alloh moal marudah teuing batiniahna urang Sunda teh. Muga maphum bae ieu mah.

ilmu pendidikan

KATA PENGANTAR


Syukur Alhamdulillah kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan nikmat-Nya kepada kita, sehingga kita dapat menyelesaikan makalah ini. Sholawat serta salam selalu kita curahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang telah menunjukkan kita dari zaman jahiliyah menuju zaman Islamiyah.
Kami membuat makalah ini adalah sebagai bahan kajian bagi kita dalam mempelajari Sejarah Pendidikan pada umumnya dan Perkembangan Pendidikan Pesantren dan Madrasah pada khususnya.
Dan tak lupa kami sampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu menyelesaikan makalah terutama kepada Bapak Nyong ETIS selaku Dosen Pembimbing.
Kami akui dengan penuh kesadaran bahwa makalah ini banyak terdapat kekurangan dan kekhilafan, oleh karena itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan makalah ini.
Atas bantuannya kami ucapkan terima kasih dan semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amin...



Penyusun

DAFTAR ISI


Kata Pengantar i
Daftar Isi ii

BAB I PENDAHULUAN 1
A. Sejarah Kemunculan Pesantren dan Madrasah 1
B. Perkembangan Pendidikan Pesantren dan Madrasah 4
C. Persamaan dan Perbedaan Pesantren dan Madrasah 8

BAB II KESIMPULAN 9

REFERENSI 10


BAB I
PENDAHULUAN


A. Sejarah Kemunculan Pesantren dan Madrasah
1. Pesantren
Pesantren merupakan lembaga pendidikan dan pengajaran Islam di mana di dalamnya terjadi interaksi antara Kyai atau Ustadz sebagai guru dan para santri sebagai murid dengan mengambil tempat di masjid atau di halaman-halaman asrama (pondok) untuk mengaji dan membahas buku-buku teks keagamaan karya ulama masa lalu (kitab kuning). Dengan demikian unsur terpenting bagi sebuah pesantren adalah adanya Kyai, para santri, masjid, tempat tinggal (pondok) serta buku-buku atau kitab-kitab teks.
Banyak penulis sejarah pesantren berpendapat bahwa pesantren merupakan hasil adopsi dari model perguruan yang diselenggarakan orang-orang Hindu dan Budha. Sebagaimana diketahui, sewaktu Islam datang dan berkembang di Pulau Jawa telah ada lembaga perguruan Hindu dan Budha yang menggunakan sistem biara dan asrama sebagai tempat para pendeta dan bhiksu melakukan kegiatan pembelajaran kepada para pengikutnya. Bentuk pendidikan seperti ini kemudian menjadi contoh model bagi para wali dalam melakukan kegiatan penyiaran dan pengajaran Islam kepada masyarakat luas, dengan mengambil bentuk sistem biara dan asrama dengan merubah isinya dengan pengajaran agama Islam yang kemudian dikenal dengan sebutan Pondok Pesantren.
Di samping berdasarkan alasan terminologi yang dipakai oleh pesantren, persamaan bentuk antara pendidikan pesantren dan pendidikan milik Hindu dan Budha di India ini dapat dilihat juga pada beberapa unsur yang tidak dijumpai pada sistem pendidikan Islam yang asli di Mekkah. Unsur tersebut antara lain seluruh sistem pendidikannya berisi murni ilmu-ilmu agama, Kyai tidak mendapatkan gaji, penghormatan yang tinggi kepada guru serta letak pesantren yang didirikan di luar kota. Data ini oleh sebagian penulis sejarah pesantren dijadikan sebagai alasan untuk membuktikan asal-usul pesantren adalah karena pengaruh dari India.
Pada permulaan berdirinya, bentuk pesantren sangatlah sederhana. Kegiatan pengajian diselenggarakan di dalam masjid oleh seorang Kyai sebagai guru dengan beberapa orang santri sebagai muridnya. Kyai tadi biasanya sudah pernah mukim bertahun-tahun untuk mengaji dan mendalami pengetahuan agama Islam di Mekkah atau Madinah. Atau pernah berguru pada seorang Wali atau Kyai terkenal di nusantara. Kemudian ia bermukim di suatu desa dengan mendirikan langgar yang dipergunakan sebagai tempat untuk shalat berjamaah.
Pada awalnya jamaah hanya terdiri dari beberapa orang saja. Pada setiap menjelang atau selesai shalat berjamaah, sang Kyai biasanya memberikan ceramah pengajian sekedarnya. Isi pengajian biasanya berkisar pada soal rukun Iman, rukun Islam serta akhlak yang lebih banyak menyangkut kehidupan sehari-hari. Berkat caranya yang menarik dan keikhlasannya yang tinggi serta perilakunya yang saleh, lama kelamaan jamaahnya bertambah banyak. Yang datang tidak lagi hanya dari penduduk desa tersebut, tetapi juga orang-orang dari jauh, dari luar desanya. Sebagian dari mereka yang ikut mengaji itu ingin tinggal menetap, dekat dengan Kyai atau Ustadz dan bahkan mulai ada beberapa orang tua yang ingin menitipkan anaknya kepada Kyai tadi. Untuk menampung semua itu dibentuklah pondok atau asrama. Dengan demikian, terbentuklah sebuah pesantren yang di dalamnya terdapat pondok, masjid, Kyai serta santri.

2. Madrasah
Madrasah merupakan isim makna dari “darasa” yang berarti “tempat untuk belajar”. Istilah madrasah ini sekarang telah menyatu dengan istilah sekolah atau perguruan (terutama perguruan Islam).
Madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam, mulai didirikan dan berkembang di dunia Islam sekitar abad ke 5 H / abad ke 10-11 M. Ketika penduduk Naisabur mendirikan lembaga pendidikan Islam model madrasah tersebut pertama kalinya. Akan tetapi tersiarnya justru melalui menteri dari kerajaan Bani Saljuk yang bernama “Nizham Al-Mulk” yang mendirikan madrasah “Nizhamiyah” tahun 65 M yang oleh Gibb dan Kramers disebutkan, bahwa setelah madrasahnya Nizham Al-Mulk ini didirikan madrasah terbesar oleh Shalahuddin Al-Ayyubi.
Pada awal perkembangan pendidikan Islam, telah terdapat 2 jenis lembaga pendidikan dan pengajaran, yaitu : kuttab, yang mengajarkan kecakapan menulis dan membaca Al-Qur'an serta dasar-dasar agama Islam kepada anak-anak, dan merupakan pendidikan tingkat dasar. Sedangkan masjid, dalam bentuk halaqah, yang memberikan pendidikan dan pengajaran tentang berbagai macam ilmu pengetahuan pada masa itu, dan merupakan tingkat pendidikan lebih lanjut.
Dalam rangka menampung kegiatan halaqah yang semakin banyak, sejalan dengan meningkatnya jumlah pelajar dan bidang ilmu pengetahuan yang diajarkan, maka dibangun ruang-ruang khusus untuk kegiatan ¬halaqah-¬halaqah tersebut di sekitar masjid. Kemudian pada perkembangan selanjutnya adalah dibangunnya ruang khusus untuk para guru dan pelajar, sebagai tempat tinggal dan tempat kegiatan belajar mengajar setiap hari secara teratur, yang disebut zawiyah atau ribath. Pada mulanya bangunan-bangunan tersebut berada di sekitar masjid, tetapi dalam perkembangan selanjutnya banyak zawiyah yang dibangun sendiri.
Lahirnya madrasah-madrasah di dunia Islam, pada dasarnya merupakan usaha pengembangan dan penyempurnaan zawiyah -zawiyah tersebut, dalam rangka menampung pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan jumlah pelajar yang semakin meningkat.
Beberapa hal yang melatarbelakangi berdirinya madrasah sebagai lembaga pendidikan, yaitu :
a. Sebagai manifestasi dan realisasi pembaharuan sistem pendidikan Islam.
b. Usaha penyempurnaan terhadap sistem pesantren ke arah suatu sistem pendidikan yang lebih memungkinkan lulusannya memperoleh kesempatan yang sama dengan sekolah umum, misalnya masalah kesamaan kesempatan kerja dan perolehan ijazah.
c. Adanya sikap mental pada sementara golongan umat Islam, khususnya santri yang terpukau pada Barat sebagai sistem pendidikan mereka.
d. Sebagai upaya untuk menjembatani antara sistem pendidikan tradisional yang dilakukan oleh pesantren dan sistem pendidikan modern dari hasil akulturisasi.

B. Perkembangan Pendidikan Pesantren dan Madrasah
1. Perkembangan Pendidikan Pesantren
Secara umum pesantren dapat dikelompokkan menjadi dua macam, yakni pesantren salaf (tradisional) dan pesantren khalaf (modern). Sebuah pesantren disebut pesantren salaf jika dalam kegiatan pendidikannya semata-mata berdasarkan pada pola-pola pengajaran klasik/lama, yakni berupa pengajian kitab kuning dengan metode pembelajaran tradisional serta belum dikombinasikan dengan pola pendidikan modern. Sedangkan pesantren khalaf (modern) adalah pesantren yang disamping tetap dilestarikannya unsur-unsur utama pesantren, memasukkan juga ke dalamnya unsur-unsur modern yang ditandai dengan sistem klasikal oleh sekolah dan adanya materi ilmu-ilmu umum dalam muatan kurikulumnya. Pada pesantren ini sistem sekolah dan adanya ilmu-ilmu umum digabungkan dengan pendidikan pesantren klasik. Dengan demikian, pesantren modern merupakan pesantren yang diperbaharui atau dipermodern pada segi-segi tertentu untuk disesuaikan dengan sistem sekolah.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pesantren telah merubah dirinya menjadi sebuah lembaga pendidikan Islam modern, bukan tradisional lagi. Modern disini dalam arti modern dalam bidang fisik, seperti dalam hal sistem dan metode, kurikulum dan perangkat fisik lain yang digunakan untuk menunjang berlangsungnya sebuah aktifitas pendidikan dan pengajaran berbagai sifat dasar yang dimiliki oleh pondok pesantren, kini sudah mulai terasa pudar sedikit demi sedikit, hanya sebagian kecil saja pondok pesantren yang dapat mempertahankan dirinya sebagai lembaga pendidikan Islam yang tradisional.
Dalam sistem dan kultur pesantren dilakukan perubahan yang cukup drastis :
a. Perubahan sistem pengajaran dari perseorangan atau sorogan menjadi sistem klasikal yang kemudian dikenal dengan istilah madrasah (sekolah).
b. Pemberian pengetahuan umum disamping masih mempertahankan pengetahuan agama dan bahasa Arab.
c. Bertambahnya komponen pendidikan pondok pesantren, misalnya ketrampilan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan masyarakat sekitar, kepramukaan untuk melatih kedisiplinan dan pendidikan agama, kesehatan dan olahraga serta kesenian yang Islami.
d. Lulusan pondok pesantren diberikan syahadah (ijazah) sebagai tanda tamat dari pesantren tersebut dan ada sebagian syahadah tertentu yang nilainya sama dengan ijazah negeri.
e. Lembaga pendidikan tipe universitas sudah mulai didirikan di kalangan pesantren.
Modernisasi dalam pendidikan Islam merupakan pembaharuan yang terjadi dalam pondok pesantren, setidak-tidaknya dapat menghapus image sebagian masyarakat yang menganggap bahwa pondok pesantren hanyalah sebagai lembaga pendidikan tradisional, tempat pembuangan anak-anak nakal yang kurang akan didikan agama. Kini pesantren disamping berkeinginan mencetak para ulama juga bercita-cita melahirkan para ilmuwan sejati yang mampu mengayomi umat dan memajukan bangsa dan negara.

2. Perkembangan Pendidikan Madrasah
Perpaduan antara sistem pada pondok pesantren atau pendidikan langgar dengan sistem yang berlaku pada sekolah-sekolah modern, merupakan sistem pendidikan dan pengajaran yang dipergunakan di madrasah. Proses perpaduan tersebut berlangsung secara berangsur-angsur, mulai dan mengikuti sistem klasikal. Sistem pengajian kitab yang selama ini dilakukan, diganti dengan bidang-bidang pelajaran tertentu, walaupun masih menggunakan kitab-kitab yang lama. Sementara itu kenaikan tingkat pun ditentukan oleh penguasaan terhadap sejumlah bidang pelajaran.
Dikarenakan pengaruh dari ide-ide pembaharuan yang berkembang di dunia Islam dan kebangkitan nasional bangsa Indonesia, sedikit demi sedikit pelajaran umum masuk ke dalam kurikulum madrasah. Buku-buku pelajaran agama mulai disusun khusus sesuai dengan tingkatan madrasah, sebagaimana halnya dengan buku-buku pengetahuan umum yang berlaku di sekolah-sekolah umum. Bahkan kemudian lahirlah madrasah-madrasah yang mengikuti sistem perjenjangan dan bentuk-bentuk sekolah modern, seperti Madrasah Ibtidaiyah sama dengan Sekolah Dasar, Madrasah Tsanawiyah sama dengan Sekolah Menengah Pertama, dan Madrasah Aliyah sama dengan Sekolah Menengah Atas.
Perkembangan berikutnya, pengadaptasian tersebut demikian terpadunya, sehingga boleh dikatakan hampir kabur perbedaannya, kecuali pada kurikulum dan nama madrasah yang diembeli dengan Islam. Kurikulum madrasah dan sekolah-sekolah agama, masih mempertahankan agama sebagai mata pelajaran pokok, walaupun dengan persentase yang berbeda. Pada waktu Pemerintah Republik Indonesia dalam hal ini Kementerian Agama, merasa perlu menentukan kriteria madrasah. Kriteria yang ditetapkan oleh Menteri Agama untuk madrasah-madrasah yang berada dalam wewenangnya adalah harus memberikan pelajaran agama sebagai mata pelajaran pokok, paling sedikit 6 jam seminggu.
Pengetahuan umum yang diajarkan di madrasah adalah :
a. Membaca dan menulis (huruf latin) bahasa Indonesia
b. Berhitung
c. Ilmu bumi
d. Sejarah Indonesia dan dunia
e. Olahraga dan kesehatan
Selain mata pelajaran agama dan bahasa Arab serta yang disebutkan diatas, juga diajarkan berbagai keterampilan sebagai bekal para lulusannya terjun ke masyarakat.


C. Persamaan dan Perbedaan Madrasah dan Pesantren
1. Persamaan pesantren dan madrasah antara lain :
a. Merupakan lembaga pendidikan yang berasaskan Islam
b. Bertujuan untuk mencetak generasi yang ideal dan bertaqwa kepada Allah SWT
2. Perbedaan pesantren dan madrasah antara lain :
No. Pesantren Madrasah
1 Adanya pesantren atau padepokan sebagai tempat tinggal
Tidak ada pesantren atau padepokan
2 Dipimpin oleh seorang Kyai
Dipimpin oleh Kepala Sekolah
3 Menggunakan metode bedongan, sorogan
Tidak menggunakan metode bedongan, sorogan


BAB II
KESIMPULAN


Pesantren dan madrasah adalah lembaga-lembaga pendidikan yang berdasarkan Islam. Pada awalnya materi yang diajarkan hanya materi-materi agama saja (seperti : fiqih, tafsir, dll.) akan tetapi dengan dimodernisasikannya pesantren dan madrasah maka ditambahkan dengan materi-materi umum lainnya. Itu adalah salah satu proses modernisasi pesantren dan madrasah.

REFERENSI


1. Hasbullah, Drs. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Rajawali Grafindo Persada. Jakarta : 1995.
2. Halaqa. Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. 2005.
3. Desain Pengembangan Madrasah. Departemen Agama RI. Jakarta : 2004.
4. Pola Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pondok Pesantren. Departemen Agama RI. 2004.
5. Tarekat, Pesantren dan Budaya Lokal. Sunan Ampel Press. Surabaya : 1999.
6. Pola Penyelenggaraan Pesantren Kilat. Departemen Agama RI. 2003.
7. Pola Pengembangan Pondok Pesantren. Departemen Agama RI. Surabaya. 2002.
8. Pedoman Manajemen Berbasis Madrasah. Departemen Agama RI. 2003.


KATA PENGANTAR


Syukur Alhamdulillah kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan nikmat-Nya kepada kita, sehingga kita dapat menyelesaikan makalah ini. Sholawat serta salam selalu kita curahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang telah menunjukkan kita dari zaman jahiliyah menuju zaman Islamiyah.
Kami membuat makalah ini adalah sebagai bahan kajian bagi kita dalam mempelajari Sejarah Pendidikan pada umumnya dan Perkembangan Pendidikan Pesantren dan Madrasah pada khususnya.
Dan tak lupa kami sampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu menyelesaikan makalah terutama kepada Bapak Nyong ETIS selaku Dosen Pembimbing.
Kami akui dengan penuh kesadaran bahwa makalah ini banyak terdapat kekurangan dan kekhilafan, oleh karena itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan makalah ini.
Atas bantuannya kami ucapkan terima kasih dan semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amin...



Penyusun

tarekat masuk ke indonesia

Masuknya tarekat ke Indonesia bersama dengan masuknya Islam ketika wilayah Nusantara masih terdiri dari kerajaan-kerajaan melalui perdagangan dan kegiatan dakwah. Sumber-sumber Cina menyebutkan ada pembangunan pemukiman Arab dan boleh jadi pemukiman Muslim di pesisir barat Sumatera pada 54 H/674 M. Wilayah ini merupakan rute perdagangan penting Arab dan Cina, serta pelabuhan strategis bagi pedagang Arab, India dan Persia.
Gelombang perpindahan besar-besaran umat Islam berikutnya terjadi pada 264 H/878 M, akibat pemberontakan Huang Chao di Cina Selatan di mana sekitar 120 atau 200 ribu pedagang dari barat – sebagian besar Muslim – dibunuh. Sebagian yang selamat melarikan diri ke Kalah di pesisir barat semenanjung Malaysia serta di San-fo-chi (Palembang).
Perkampungan pedagang Muslim lainya disebutkan terletak di Champa pada 430 H/1039 M dan di Jawa 475 H/1082 M. Sungguhpun banyak perkampungan Muslim, terkesan tidak ada kegiatan dakwah yang menonjol hingga akhir abad 7 H/13 M. Baru terjadi kegiatan dakwah yang meningkat pada awal abad 8 H/14 M dan terus menguasai seluruh kepulauan dalam abad berikutnya. Mengapa?
Kegiatan dakwah yang bangkit sejak awal abad 8 H/14 M dan terus berkembang, dimotori oleh kaum sufi. Dalam hikayat lokal dan tradisi-tradisi lisan, terdapat banyak keterangan tentang faqir (darwis), wali (orang suci), dan syekh (guru) di kalangan penyebar awal Islam di berbagai wilayah selama abad 7 – 8 H/13 – 14 M. Semua ini adalah istilah teknis yang terdapat dalam kosakata tasawuf, yang tetap dipertahankan, sehingga memberi kesan kuat bahwa para penyebar ini adalah kaum sufi.
Gerakan dakwah Muslim telah berjalan di pesisir timur Jawa di wilayah Gresik yang dipimpin Maulana Malik Ibrahim yang merupakan keturunan dari Zain Al Abidin, seorang cicit Nabi. Konon dia tinggal di Jawa sebagai juru dakwah selama lebih dua puluh tahun, yang diteruskan oleh anak keturunannya seperti Sunan Giri, Sunan Bonang dan Sunan Drajat.
Ada pendapat, islamisasi Jawa tidak lepas dari peran penting Malaka. Sebagai contoh, Sunan Giri dan Sunan Bonang telah belajar di Malaka selama setahun dibawah bimbingan Syekh Wali Lanang.
Ketika Malaka jatuh ke tangan Portugis, Aceh menjadi penerusnya sebagai pusat perdagangan Muslim. Aceh mencapai puncak dalam bidang militer dan kekuatan perdagangan serta menyaksikan pertumbuhan tasawuf, yang melahirkan zaman keemasan peradaban Melayu, khususnya menyangkut intensitas kehidupan intelektual dan spiritual.
Selama itu hiduplah sufi-sufi Melayu besar seperti Hamzah Al Fanshuri dan Syams Al-Din Al-Sumatrani, dan diikuti oleh figur-figur sufi seperti Nur Al-Din Al-Raniri dan Abd Al-Ra’uf Singkel. Melalui sejumlah tulisan dan penyebaran tarekat-tarekat sufi, mereka memberikan kontribusi signifikan pada islamisasi Kepulauan Nusantara.
Tarekat yang pernah berkembang di Indonesia cukup banyak, akan tetapi sebagian daripadanya hanya tinggal nama. Memang untuk sampai pada kesimpulan apakah tarekat itu masih ada, mengajarkan dan melakanakan amalan secara lengkap, dan apakah masih ada pengikutnya, perlu penelitian lebih mendalam .
Menurut satu sumber, dewasa ini di seluruh dunia ada 43 macam tarekat, Apakah semuanya ada di Indonesia? Lagi-lagi perlu penelitian lebih mendalam. Beberapa tarekat yang popular di Indonesia hingga sekarang, antara lain : Tarekat Tijaniah, Tarekat Sanusiah, Tarekat Syadziliyah, Tarekat Sammaniyah, Tarekat Syattariyah, Tarekat Qadiriyah, Tarekat Khalawatiyah, dan Tarekat Naqsyabandiyah.

tasawuf

Kerajaan Saudi Arabia – Riyadh
Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah
1430 H – 2009 M





Tarekat Tasawuf

[ Indonesia [



Penyusun : Hartono Ahmad Jaiz



Editor : Abu Ziyad




Hak Cipta Milik Kaum Muslimin




المملكة العربية السعودية – الرياض
المكتب التعاوني للدعوة والإرشاد وتوعية الجاليات بالربوة
2009م – 1430ه‍





طريقة صوفية
[ اللغة الإندونيسية ]

تأليف :
الشيخ هارتونو أحمد جائز


مراجعة: أبو زياد



حقوق الطبع والنشر لعموم المسلمين



Tarekat Tasawuf
Oleh Hartono Ahmad Jaiz
Akibat Menyelisihi Sunnah

عَنْ أَبِي رَبَاحٍ عن سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ أنه رأى رَجُلاً يُصَلِّي بَعْدَ طُلُوْعِ الْفَجْرِ أَكْثَرَ مِنْ رَّكْعَتَيْنِ يُكْثِرُ فِيْهَا الرُّكُوْعَ وَالسُّجُوْدَ فَنَهَاهُ فَقَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ أَيُعَذِّبُنِي اللَّهُ عَلَى الصَّلاَةِ قَالَ لاَ وَلَكِنْ يُعَذِّبُكَ اللَّهُ بِخِلاَفِ السُّنَّةِ
“Riwayat dari Abi Rabah, dari Sa’id bin Musayyab, bahwa dia melihat seorang lelaki shalat setelah terbit fajar, lebih banyak dari dua raka’at, dia memperbanyak ruku’ dan sujud, maka Sa’id bin Musayyab melarangnya, lalu orang itu bertanya: Wahai Abu Muhammad, apakah Allah akan menyiksaku karena shalat? Sa’id menjawab: “Tidak, tetapi Allah akan menyiksamu karena (kamu) menyelisihi sunnah.” (1)
Ini termasuk jawaban bagus dari Sa’id bin Musayyab rahimahullah, yaitu senjata yang kuat menghadapi pelaku bid’ah, yang menganggap baik banyaknya bid’ah, dengan nama dzikir dan shalat, kemudian mereka mengingkari ahlis sunnah, dengan tuduhan tidak doyan dzikir dan shalat. Padahal ahlis sunnah itu sebenarnya hanyalah mengingkari penyimpangan mereka dari sunnah dalam dzikir, shalat, dan sebagainya. (2)
Kesesatan di Kampung dan di Kampus
Kenapa kebiasaan masyarakat tradisional berupa Tarekat Tasawuf Tahlilan dan Maulidan ini ditulis dan disoroti? Bukankah yang perlu dilanjutkan adalah penulisan seperti pembahasan yang menukik pada kondisi kampus perguruan tinggi Islam (IAIN – Institut Agama Islam Negeri) se-Indonesia yang gejalanya sudah mengkhawatirkan (bahkan membahayakan) dalam perkembangan Islam?
Ya, memang benar. Mengenai IAIN itu, buku yang saya tulis pun judulnya mencolok, yaitu Ada Pemurtadan di IAIN. Dan sebelumnya lagi, tak kalah serunya, yaitu upaya membabat virus liberal yang mengganas, dalam judul buku Menangkal Bahaya JIL (Jaringan Islam Liberal) dan FLA (Fiqih Lintas Agama).
Pertanyaannya mungkin, kenapa dari membicarakan masalah yang berbahaya di kampus perguruan tinggi Islam, tahu-tahu sekarang membahas masalah kebiasaan yang dilakukan di kampung-kampung, yaitu tahlilan dan maulidan. Ini berarti dari kampus turun ke kampung.
Pembaca yang budiman, justru sebenarnya dengan ditulisnya Tarekat Tasawuf Tahlilan dan Maulidan ini adalah untuk menjelaskan alur dan jaringan yang berkait berkelindan antara yang sesat-sesat di kampus atau di angkasa pemikiran dengan yang di kampung-kampung di areal tradisi sehari-hari. Coba kita tengok, bagaimana ketika Ahmad Dhani (keturunan Yahudi ), (3) penyanyi dari group Band Dewa di Jakarta, dia “terpeleset” dalam kasus karpet yang hiasannya kaligrafi lafal Allah (yang katanya sudah dimodifikasi) dijadikan alas dalam pentas nyanyi. Hingga karpet berhiasan kaligrafi lafal Allah itu dia injak-injak. Maka Dhani diprotes orang, tahun 2005. (4) Ternyata, dalam kasus itu, Ahmad Dhani –yang menjajakan faham-faham tasawuf sesat di antaranya faham hulul (meleburnya diri dengan Tuhan) dari tokoh tasawuf sesat Al-Hallaj lewat nyanyiannya (5) itu—mengaku bahwa Dhani hanya percaya kepada dua ulama. Yang satu dari kalangan kampus IAIN dan pemikir Islam, yaitu Prof Dr Quraish Shihab, dan yang lainnya dari kalangan tradisional yaitu Gus Dur atau Abdurrahman Wahid. (6)
Jangan ditanya lagi, apakah Gus Dur/ Abdurrahman Wahid tokoh NU (Nahdlatul Ulama) yang berfaham liberal dan suka nyeleneh (aneh) itu bagaimana sikapnya terhadap Dhani. Dhani pun minta perlindungan dan pembelaan ke Gus Dur. Tidak salah alamat itu Dhani. Siapa sih yang tidak merujuk ke Gus Dur, kalau mengenai hal yang berseberangan dengan Islam. Lha wong Lia Eden yang jelas-jelas mengaku sebagai isteri Malaikat Jibril (tahun 2005), bahkan berani menghalalkan daging babi yang jelas diharamkan Allah Subhanahu Wata’ala (kemudian divonis 2 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Juni 2006) saja masih dibela oleh Gus Dur, di TVRI ketika berdialog dengan Husein Umar (almarhum) Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia dengan dipandu Salim Said, 2006. Gus Dur saat itu justru mengkritik pemerintah, dia anggap terlalu mencampuri urusan agama. Tampaknya, seolah kalau yang sekiranya berseberangan dengan Islam, seperti adat kemusyrikan yang telah terkubur misalnya ruwatan mau dihidup-hidupkan kembali, sepertinya tidak afhdol kalau panitianya tidak mendatangkan Gus Dur. Ternyata benar, Februari 2006, Gus Dur mendatangi upacara ruwatan disertai sesajen kepada syetan di Yogyakarta. Na’udzubillah min dzaalik!
Maaf, ini sejenak berbelok ke Gus Dur.
Ya, ini sekadar contoh saja. Bahwa masalah-masalah yang berseberangan dengan Islam, berkait berkelindan. Ada yang di kampus-kampus, ada yang di dunia persangkresan (musik) yang nyanyiannya menyebar ke masyarakat umum, dan ada yang dari tokoh kaum tradisionalis. Di kala ada yang terpeleset dan agak kentara dalam melecehkan Islam atau merusak Islam, maka mereka bertolong menolong untuk menyelamatkan siapa yang lagi mau tercebur.
Oleh karena itu, pembahasan tentang tarekat tasawuf ini justru merupakan alur sambungan dengan buku-buku yang berbicara tentang pemikiran berbahaya di kampus perguruan tinggi Islam. Memang kelihatannya, buku Ada Pemurtadan di IAIN dan Menangkal Bahaya JIL & FLA itu menyangkut dunia kampus dan pemikiran. Sedang Tarekat Tasawuf Tahlilan dan Maulidan ini di dunia perkampungan. Tetapi sebenarnya ada arus bolak-balik antara kampus, pemikiran, dan kampung; di sana ada orang-orang dari praktisi tarekat tasawuf dan ada yang dari kampus dan berpikiran sekuler, tetapi alur kesemrawutannya sama, dan rujukannya sama, yaitu tasawuf sesat.
Untuk menggambarkan satu jalur yang “pas” seperti itu, perlu bukti-bukti yang nyata lagi kongkret. Tidak bisa kita main tuduh atau ngarang semau-maunya. Di sinilah letak kesulitannya, untuk mewujudkan satu gambaran yang hakekatnya sama (yaitu sama-sama menyimpang dan tak sesuai dengan Islam) tetapi secara penampilan dan lokasinya berbeda. Yang satu berada di kampus-kampus dan dunianya pemikiran, yang satunya lagi di kampung-kampung dalam dunia praktis tradisional. Yang satu selaku pelaku yang sadar dan dengan sengaja karena menjalani proyek dengan dana kemungkinan dari orang kafir dan semacamnya, sedang yang lain menjadi obyek dan hanya terbawa arus kesesatan.
Ratusan Tahun Sesudah Wafatnya Nabi Shallallahu alaihi wasallam Tarekat, tasawuf, tahlilan, dan maulidan itu semua timbul sesudah ratusan tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam. Tentang munculnya tarekat itu sendiri setelah 500 tahun sesudah wafatnya Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam. Karena awal munculnya di zaman Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani yang hidup tahun 470-561H/ 1077-1166M. Tarekat-tarekat lainnya baru muncul sesudahnya, dan Tarekat Qadiriyah (dinisbatkan kepada Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani) itu sendiri mengalami penambahan dengan dzikir-dzikir yang mungkar dan batil, mengandung keyakinan wihdatul wujud, yang bertentangan dengan Tauhid dalam Islam. Ketika dicocokkan dan dirujuk kepada landasan-landasan Islam yang sudah baku terutama Al-Qur’an dan As-Sunnah serta contoh dari Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam yang diwarisi oleh para sahabat, tabi’ein dan tabi’it tabi’ien, ternyata tidak ketemu.
Dari sisi lain, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam memperingatkan, dalam hadits yang shahih ditegaskan:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ نَبِيٍّ بَعَثَهُ اللَّهُ فِي أُمَّةٍ قَبْلِي إِلاَّ كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّونَ وَأَصْحَابٌ يَأْخُذُونَ بِسُنَّتِهِ وَيَقْتَدُونَ بِأَمْرِهِ ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ يَقُولُونَ مَا لاَ يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لاَ يُؤْمَرُونَ فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِلِسَانِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلْبِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَيْسَ وَرَاءَ ذَلِكَ مِنْ الإِيمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ.
“Dari Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Tidak ada seorang nabi pun yang diutus Allah kepada suatu ummat sebelumku, melainkan dari umatnya itu terdapat orang-orang yang menjadi pengikut dan sahabatnya, yang mengamalkan Sunnahnya dan menaati perintahnya. (Dalam riwayat lain dikatakan, “Mereka mengikuti petunjuknya dan menjalankan Sunnah-nya.”) “Kemudian setelah terjadi kebusukan, dimana mereka mengatakan sesuatu yang tidak mereka kerjakan dan mengerjakan sesuatu yang tidak diperintahkan, maka orang-orang yang memerangi mereka dengan tangannya, niscaya dia termasuk orang-orang yang beriman. Dan orang yang memerangi mereka dengan lisannya, niscaya dia termasuk orang-orang yang beriman. Demikian juga dengan orang yang memerangi mereka dengan hatinya, niscaya dia termasuk orang yang beriman. Selain itu, maka tidak ada keimanan sebesar biji sawi pun.” (HR. Imam Muslim)
Ada yang perlu digaris-bawahi, sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam itu, dalam kaitan pembahasan ini. Ungkapan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam yang artinya kurang lebih: “Kemudian setelah terjadi kebusukan, dimana mereka mengatakan sesuatu yang tidak mereka kerjakan dan mengerjakan sesuatu yang tidak diperintahkan,” itu terbukti nyata di sekitar kita. Betapa tidak. Kita mengatakan bahwa kita adalah golongan yang menyebut diri Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yang artinya pengikut Sunnah (Al-Qur’an dan As- Sunnah) dan jama’ah (yang tidak memisahkan diri dari Al-Qur’an dan As-Sunnah).
Perkataan kita yang kita bawa-bawa itu, apakah benar, bahwa yang kita lakukan itu sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah? Bila kenyataannya tidak, maka terkena hadits itu, yaitu ‘mereka mengatakan sesuatu yang tidak mereka kerjakan‘.
Di samping itu, kita juga mengatakan, bahwa kita mencintai Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam, mencintai Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, bahkan kata-kata ‘cinta Rasul’ sering jadi slogan. Tetapi, benarkah apa yang kita katakan itu benar-benar kita lakukan? Kalau benar, berarti apa-apa yang kita lakukan adalah sesuai dengan yang dituntunkan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Karena cinta itu harus diujudkan dalam perilaku berupa mengikuti/ ittiba’. Sebagaimana ditegaskan oleh Allah swt dalam Al-Qur’an:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Ali ‘Imraan/ 3: 31).
Mencintai Allah, caranya adalah dengan mengikuti Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Demikian pula mencintai Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam adalah mengikutinya. Karena dengan mengikuti Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam itu berarti sudah mentaati Allah Subhanahu wata’ala.
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Barangsiapa yang menta`ati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menta`ati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari keta`atan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (QS An-Nisaa’: 80).
Bagaimana kalau mulutnya bilang ‘cinta’ tetapi tangan (perilakunya) berpa-ling? Itulah perilaku yang telah diperingatkan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, ‘mereka mengatakan sesuatu yang tidak mereka kerjakan’. Lebih dari itu, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam memperingatkan, ‘dan mereka mengerjakan sesuatu yang tidak diperintahkan.’ Ini jelas sekali. Yang dikerjakan justru hal-hal yang tidak diperintahkan oleh Allah Subhanahu wata’ala, tidak diperintahkan pula oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Dalam pembahasan ini, para pengamal tarekat, tasawuf, tahlilan dan maulidan itu memberlakukan apa-apa yang dijadikan amalan, sedang amalan itu timbulnya sudah ratusan tahun setelah Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, dan sudah dijelaskan oleh para ulama bahwa tidak ada perintahnya, bahkan tak sesuai dengan perintah. Selanjutnya, Nabi Shallallahu alaihi wasallam berpesan wanti-wanti: ‘maka orang yang memerangi mereka dengan tangannya, niscaya dia termasuk orang-orang yang beriman. Dan orang yang memerangi mereka dengan lisannya, niscaya dia termasuk orang-orang yang beriman. Demikian juga dengan orang yang memerangi mereka dengan hatinya, niscaya dia termasuk orang yang beriman. Selain itu, maka tidak ada keimanan sebesar biji sawi pun.”
Oleh karena itu, mudah-mudahan tulisan ini sebagai salah satu bukti untuk tidak termasuk dalam kategori yang terakhir itu. Sedangkan terhadap pihak-pihak yang menyelisihi Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, maka Allah Subhanahu wata’ala firmankan kepada Rasul-Nya,
وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا
“Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (QS An-Nisaa’: 80).
Dalam kaitan ini, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam telah menyampaikan da’wahnya. Beliau pun diberi wahyu oleh Allah Subhanahu wata’ala secara sempurna. Hingga bagaimana nasib orang-orang yang oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dianggap sebagai umatnya pun ketika mereka menyelisihinya sepeninggalnya, maka mereka terusir dari telaga di akherat. Secara jelas Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam menggambarkan nasib orang-orang yang menyelisihinya, dalam hadits-hadits sahih sebagai berikut:
حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَى الْمَقْبَرَةَ فَقَالَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لاَحِقُونَ وَدِدْتُ أَنَّا قَدْ رَأَيْنَا إِخْوَانَنَا قَالُوا أَوَلَسْنَا إِخْوَانَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَنْتُمْ أَصْحَابِي وَإِخْوَانُنَا الَّذِينَ لَمْ يَأْتُوا بَعْدُ فَقَالُوا كَيْفَ تَعْرِفُ مَنْ لَمْ يَأْتِ بَعْدُ مِنْ أُمَّتِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ أَرَأَيْتَ لَوْ أَنَّ رَجُلاً لَهُ خَيْلٌ غُرٌّ مُحَجَّلَةٌ بَيْنَ ظَهْرَيْ خَيْلٍ دُهْمٍ بُهْمٍ أََلاَ يَعْرِفُ خَيْلَهُ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَإِنَّهُمْ يَأْتُونَ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنَ الْوُضُوءِ وَأَنَا فَرَطُهُمْ عَلَى الْحَوْضِ أَلاَ لَيُذَادَنَّ رِجَالٌ عَنْ حَوْضِي كَمَا يُذَادُ الْبَعِيرُ الضَّالُّ أُنَادِيهِمْ أَلاَ هَلُمَّ فَيُقَالُ إِنَّهُمْ قَدْ بَدَّلُوا بَعْدَكَ فَأَقُولُ سُحْقًا سُحْقًا . ا .
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anh , ia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam pernah pergi ke kawasan pekuburan lalu bersabda:
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لاَحِقُونَ
Aku sangat gembira sekiranya kita dapat melihat saudara-saudara kita. Para Sahabat bertanya: Tidakkah kami semua saudara-saudaramu wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Kamu semua adalah sahabatku, saudara-saudara kita ialah mereka yang belum wujud lagi. Sahabat bertanya lagi: Bagaimana engkau dapat mengenali mereka yang belum lagi wujud dari kalangan umatmu wahai Rasulullah? Baginda menjawab: Apakah pendapat kamu sekiranya seorang lelaki mempunyai seekor kuda yang berbulu putih di dahi serta di kakinya dan kuda itu berada di tengah-tengah sekelompok kuda yang hitam legam. Adakah dia akan mengenali kudanya itu? Para Sahabat menjawab: Sudah tentu wahai Rasulullah. Beliau bersabda lagi: Maka mereka datang dalam keadaan muka dan kaki mereka bercahaya karena bekas wudhu. Aku mendahului mereka ke telaga. Ingatlah! Ada golongan lelaki yang dihalangi untuk datang ke telagaku seperti dihalaunya unta-unta sesat. Aku memanggil mereka: Kemarilah kamu semua. Maka dikatakan, bahawasanya mereka telah menukar ajaranmu selepas engkau wafat. Maka aku katakan: Pergilah jauh-jauh dari sini (HR Al-Bukhari dan Muslim).
حَدِيثُ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : بَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ بَيْنَ أَظْهُرِنَا إِذْ أَغْفَى إِغْفَاءَةً ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ مُتَبَسِّمًا فَقُلْنَا مَا أَضْحَكَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أُنْزِلَتْ عَلَيَّ آنِفًا سُورَةٌ فَقَرَأَ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ( إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ ) ثُمَّ قَالَ أَتَدْرُونَ مَا الْكَوْثَرُ فَقُلْنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ فَإِنَّهُ نَهْرٌ وَعَدَنِيهِ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ خَيْرٌ كَثِيرٌ هُوَ حَوْضٌ تَرِدُ عَلَيْهِ أُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ آنِيَتُهُ عَدَدُ النُّجُومِ فَيُخْتَلَجُ الْعَبْدُ مِنْهُمْ فَأَقُولُ رَبِّ إِنَّهُ مِنْ أُمَّتِي فَيَقُولُ مَا تَدْرِي مَا أَحْدَثَتْ بَعْدَكَ . .
Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anh , ia berkata: Pada suatu hari, ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersama-sama kami, tiba-tiba beliau tersengguk-sengguk seperti mengantuk, kemudian beliau mengangkat kepala sambil tersenyum. Kami bertanya: Apakah yang membuat engkau tertawa wahai Rasulullah? Beliau bersabda: Baru saja aku dituruni satu surat, lalu beliau membaca:
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ( إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الأَبْتَرُ )
Yang artinya: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu ni`mat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.”
Kemudian beliau bertanya: Kamu tahukah, apa yang dimaksudkan dengan al-Kautsar? Kami menjawab: Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui. Beliau bersabda: Ia adalah sungai yang dijanjikan oleh Tuhanku, yang mempunyai berbagai kebaikan. Yaitu berbentuk sebuah kolam yang dikunjungi oleh umatku pada Hari Kiamat nanti, untuk mengambil airnya. Disediakan gayung- gayung sebanyak bintang di langit. Kemudian salah seorang dari umatku ditarik dari kumpulan mereka. Lantas aku berkata: Wahai Tuhanku, dia adalah salah seorang umatku. Lalu Allah berfirman: Engkau tidak mengetahui, apa yang telah dilakukannya setelah wafatmu (HR Al-Bukhari dan Muslim).
حَدِيثُ أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي عَلَى الْحَوْضِ حَتَّى أَنْظُرَ مَنْ يَرِدُ عَلَيَّ مِنْكُمْ وَسَيُؤْخَذُ أُنَاسٌ دُونِي فَأَقُولُ يَا رَبِّ مِنِّي وَمِنْ أُمَّتِي فَيُقَالُ أَمَا شَعَرْتَ مَا عَمِلُوا بَعْدَكَ وَاللَّهِ مَا بَرِحُوا بَعْدَكَ يَرْجِعُونَ عَلَى أَعْقَابِهِمْ قَالَ فَكَانَ ابْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ أَنْ نَرْجِعَ عَلَى أَعْقَابِنَا أَوْ أَنْ نُفْتَنَ عَنْ دِينِنَا .
Diriwayatkan dari Asma’ binti Abu Bakar Radhiyallahu ‘anha , ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Aku berada di atas telaga sehingga aku dapat melihat siapakah di antara kamu yang datang kepadaku dan siapakah orang-orang di bawahku yang akan dihukum, lalu aku berkata: Wahai Tuhanku! Mereka adalah sebahagian dariku dan termasuk umatku. Kemudian dikatakan: Tahukah engkau apa yang mereka lakukan sesudahmu? Demi Allah, mereka terus kembali kepada kekafiran sepeninggalmu. Kata perawi: Ibnu Abi Mulaikah berdoa: Ya Allah! Sesungguhnya aku mohon perlindungan kepadaMu agar tidak kembali kepada kekafiran atau tidak difitnah dari agama kami.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).
حَدِيثُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ وَلَأُنَازِعَنَّ أَقْوَامًا ثُمَّ لَأُغْلَبَنَّ عَلَيْهِمْ فَأَقُولُ يَا رَبِّ أَصْحَابِي أَصْحَابِي فَيُقَالُ إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ .
1344 Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anh, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: ‘Aku akan mendahului kamu berada di Telaga. Sesungguhnya aku sempat berebut-rebut dengan beberapa kaum, namun aku dapat mengalahkan mereka, aku katakan: Wahai Tuhanku, tolonglah sahabat-sahabatku, tolonglah sahabat-sahabatku. Lantas dikatakan: Sesungguhnya engkau tidak tahu apa yang telah mereka kerjakan sepeninggalmu.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).
Demikianlah peringatan-peringatan dari Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Semuanya sudah jelas. Sehingga tinggal kita ikuti. Semoga umat Islam yang taat dirahmati oleh Allah Subhanahu wata’ala, di dunia dan akherat. Amin, ya Rabbal ‘alamin.
Untuk lebih komplitnya bisa dibaca di buku Tarekat Tasawuf Tahlilan dan Maulidan, WIP Solo, 2006, cetakan baru 2008. (Hartono Ahmad Jaiz).
——————–
(1) Riwayat Ad-Darimi 1/116, Abdur Razaq 4755, Al-Baihaqi 2/ 466, lihat Irwaul Ghalil oleh Al-Albani 2/236, sanadnya shahih.
(2) Abu ‘Ubaidah Ibrahim bin Mahmud Abdul al-Radhi, Rowai’ul Ajwibah, Darul Iman, Iskandariyah Mesir, 2004, halaman 109.
(3) DHANI THANKS TO: …JAN PIETER FREDERICH KoHLER (THANKS FOR THE GEN). Dhani berterima kasih kepada: …Jan Pieter Frederich Kohler (Terima kasih atas darah keturunannya). Demikian bunyi satu baris tulisan dalam cover album Laskar Cinta, album paling anyar grup musik Dewa. Ditulis dengan huruf kapital seluruhnya. Siapa sebenarnya pemilik nama Jan Pieter Frederich Kohler (JPFK) yang dimaksud pentolan Dewa Ahmad Dhani? Merunut silsilah keluarga, pemilik nama tersebut ternyata ayah dari ibu kandung Ahmad Dhani ‘Dewa’ alias kakeknya. Ibunya sendiri bernama Joyce Theresia Pamela Kohler. “Kakeknya Dhani dari ibu orang Jerman. Kohler adalah nama keluarga, family name, dari keluarga Yahudi Jerman. Jadi jelaslah, Dhani mempunyai kebanggaan akan darah keturunannya itu,” ujar pengamat zionisme yang juga Budayawan Betawi Haji Ridwan Saidi. Bisa jadi, sebab itulah dalam berbagai kesempatan show-termasuk ketika manggung di Transtv yang menginjak-injak karpet dengan motif logo bertuliskan nama Allah yang kontroversial itu, Ahad (10/4)-Dhani ‘Dewa’ selalu mengenakan kalung Bintang David, gimbal Zionis-Israel. (Majalah Saksi Edisi Mei 2005)
(4) Sabtu, 23 April 2005
Habieb Rizieq melalui kuasa hukum FPI, Ary Yusuf Amir tetap akan melaporkan Dewa ke polisi jika somasi yang dilayangkan FPI kepada Dewa tidak ditanggapi. Menurut Ary, ada beberapa tuntutan dalam surat somasi yang dikirimkan kepada Dewa. Di antaranya, menuntut Dewa agar menghilangkan lambang kaligrafi berbentuk bintang bertuliskan Allah dalam cover album Laskar Cinta. Kemudian menuntut Dewa meminta maaf kepada umat Islam secara terbuka di media massa. “Kalau somasi kami tidak ditanggapi, maka kami tidak akan segan-segan melaporkan Dewa ke polisi,” kata Ary.
Menurut Ary, dalam hal ini sudah jelas-jelas Dewa melecehkan Islam dengan menempatkan kaligrafi bertuliskan Allah di lantai saat tampil di Trans TV pada Minggu (10/4) lalu. Dikatakan Ary, dalam tayangan itu jelas terlihat kalau yang digunakan sebagai alas itu berhiaskan kaligrafi Allah. Dengan posisi sebagai alas, maka tulisan kaligrafi Allah itu dengan mudah terinjak-injak. “Padahal, jangankan disengaja dijadikan alas, jatuh di lantai saja kita harus mengembalikan posisinya ke tempat yang benar. Dalam arti tidak boleh diletakan di sembarang tempat,” kata Ary. (Syamsudin W) (Suara Karya Online)
(5) Misal dalam album Laskar Cinta ada lagu berjudul ‘Satu’ yang diciptakan Ahmad Dhani. Isinya menyebarkan paham wihdatul wujud atau yang dikenal sebagai ajaran sesat yang mengatakan bahwa ada kesatuan wujud antara Sang Khaliq dengan Mahluk-NYA. Paham ini dalam bahasa Syekh Siti Jenar dikatakan sebagai, “Manunggal ing kawulo Gusti.” Sesuatu yang pernah diajarkan oleh AI-Hallaj dan Syekh Siti Jenar. Parahnya, ini seakan dibenarkan oleh Ahmad Dhani sendiri dengan menulis di bawah lirik lagu tersebut dalam cover Laskar Cinta versi kaset, “THANKS TO: AL- HALLAZ” (tulisan dalam covernya memang huruf kapital semua). Lalu dalam album yang sama versi CD, juga di bawah lirik lagu ‘Satu’, Ahmad Dhani menulis “THANKS TO: SYEKH LEMAH ABANG”. Asal tahu saja, Syekh Lemah Abang adalah nama lain dari Syekh Siti Jenar.
Apa maksud Ahmad Dhani menulis lagu dan ucapan terima kasih kepada dua tokoh aliran sesat tersebut? Ada lagi tulisan kontroversial dalam album Laskar Cinta. Kalimat dalam ucapan terima kasih yang diberikan Ahmad Dhani. Dalam tulisannya, Dhani menulis, “ALLAH SWT (LORD OF THE LORDS). Orang awam mungkin akan mengira bahwa tulisan “Lord of the Lords’ sama dengan “La lIaha lllallah’ dalam bahasa Arab.
Namun bagi Ridwan Saidi yang telah mendalami agama Yahudi yang salah satu pilarnya adalah mengajarkanPantheisme (Tuhan banyak), tulisan “Lord of the Lords’ merupakan manifestasi pandangan Pantheisme, mengingat dalam cover yang sama juga tersebar simbol dan lambang Yahudi. “Ada kesatuan logika di sini. Jadi selain memuat simbol dan lambang Yahudi, di sini juga ada tulisan yang memiliki maksud yang sama. Yahudi itu mengenal tuhan banyak. Ada satu tuhan yang paling tinggi disebut Yahweh (dalam bahasa Ibrani YHWH, tanpa konsonan), YHWH itu dikelilingi oleh tuhan-tuhan lain yang lebih kecil yang dinamakan Elohim, Joshua, Horus, Ra, dan lain-lain. Ini maksud sebenarnya,” papar Ridwan. Semua ini, penyebaran symbol gambar, lambang, syair, dan tulisan yang seluruhnya bermuara kepada satu ideologiJudaisme (Yahudi-isme), seperti yang didapat dalam banyak album Dewa, dalam pandangan Ridwan Saidi dan sejumlah tokoh Islam jelas tidak bisa diterima.
Terhadap kalangan yang memandang hal ini sebagai suatu kreativitas seni semata sebab itu tidak perlu disikapi dengan serius, Ridwan Saidi punya satu ilustrasi menarik.
“Di Amerika Serikat, di masa pemerintahan Presiden Bill Clinton, ada satu penyanyi bernama Tuvak Sakhur.Syair-syairnya mengajak masyarakat agar memerangi polisi. Amerika yang dikenal sebagai negara paling liberal di dunia itu, pemerintahnya akhirnya melarang Tuvak Shakur. Mengapa di sini tidak bisa? Saya melaporkan Dewa ke Kejaksaan agar ditindaklanjuti, nanti semuanya terserah pada mekanisme hukum yang berlaku,” ujar Ridwan. (postingan Suryawhan Arifandi di milis Friendster Nusantara per hari ini, 26 Mei 2005.)
6.Bahkan Ahmad Dhani mengatakan dirinya sudah berkonsultasi dengan sejumlah ulama mengenai hal itu, terutama Gus Dur dan Dr. Quraish Shihab. Dua tokoh muslim yang diakui Dhani sebagai gurunya tersebut tidak mempermasalahkan hal itu. ‘Saya tunduk kepada beliau. Jadi selain beliau, tidak akan saya turuti.’ (2005, GusDur.Net). Dalam tulisan ini, kasus Ahmad Dhani ini hanya mengenai apa yang telah dipersoalkan masyarakat, dia menginjak-injak karpet yang berkaligrafi lafal Allah yang sudah dimodivikasi, dan masalah serius tentang keyakinan yang disebarkannya berupa ajaran tasawuf sesat dari Al-Hallaj. Adapun tema tentang nyanyian dan musik belum diulas di sini, sehingga perlu dibaca dalam artikel tentang haramnya musik, yang juga kami tampilkan insya Allah.

hubungan olah raga dan keaseahatan

HUBUNGAN OLAHRAGA DENNGAN KESEHATAN
Dalam kehidupan sehari-hari, semua orang ingin menjadi sehat. Sehat keadaan di mana penyakit, baik mental maupun fisik. Hidup sehat ada berbagai macam cara yang tepat adalah makan istirahat cukup, olahraga cukup berlebihan, dan stres tidak terlalu banyak.
Seseorang yang sehat dan fit akan dapat melakukan pekerjaan sehari-hari tanpa kelelahan yang berarti. Ia masih mempunyai cadangan tenaga yang cukup untuk suatu kegiatan ekstra seperti berolahraga dan rekreasi. Sehat dalam arti umum adalah dengan cara menjaga makanan agar cukup gizi dan menjaga kebersihan sehari-hari. Kebersihan ini meliputi kebersihan diri sendiri, misalnya mandi, berpakaian, dan lain-lain.
Kebersihan lingkungan adalah kebersihan dalam rumah tinggal maupun pekerjaan (kantor). Kebersihan makan perlu dijaga agar tidak mudah kena penyakit yang ditularkan melalui makanan. Makanan yang dimakan harus cukup, baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Selain itu, makanan juga harus seimbang. Artinya, perbandingan antara karbohidrat, protein, dan lemak harus sesuai dengan kebutuhan.
Dari segi kuantitas, harus diperhatikan jumlah porsi makanan agar tak berlebihan atau kurang. Jumlah porsi ini disesuaikan dengan pekerjaan sehari-hari. Apakah pekerjaan tersebut berat atau ringan. Pada pekerjaan di kantor, tentunya tidak banyak makanan yang diperlukan karena beban fisik tidak besar. Orang yang biasa bekerja di kantor tak butuh kalori yang terlalu banyak, misalnya hanya 1.800-2.000 kalori. Jumlah ini tergantung dari berat badannya.
Orang dengan berat badan besar tentunya butuh kalori lebih banyak. Macam aktivitas sehari-hari juga menentukan besarnya kebutuhan kalori. Bila pekerjaan berat, tentu dibutuhkan jumlah kalori yang tinggi. Misalnya seorang atlet pembalap sepeda jarak jauh dengan berat badan 75 kg menempuh jarak perlombaan sebanyak 200 km membutuhkan kurang lebih 6.000 kalori.
Namun, seorang pemain tenis meja dengan berat badan 60 kg hanya membutuhkan sebanyak kurang lebih 3.600 kalori. Untuk seorang non-atlet, jumlah kalori ini dapat dipenuhi dari makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Cara makan yang benar adalah dalam jumlah yang sedikit dengan frekuensi yang sering, misalnya 4-5 x sehari.
Makanan tersebut harus cukup zat gizinya. Artinya, cukup karbohidrat, protein, dan lemak. Secara umum, misalnya setiap makan harus cukup nasi, dengan lauk daging atau telur, sayuran, dan harus ada buah. Jangan lupa pula selingan/snack yang cukup bergizi. Bila makan seperti itu dapat dilakukan, maka untuk kehidupan sehari-hari ini sudah cukup.
Bila kegiatan fisik bertambah berat, seperti banyak pekerjaan lebih yang dilakukan, atau sehabis sakit, maka diperlukan makanan dengan kalori yang lebih banyak dan mungkin dibutuhkan suplemen. Seorang wanita yang dalam keadaan normal cukup makannya, bila ia mengalami menstruasi, ia merasa lemas karena darahnya berkurang. Untuk itu, ia boleh mengonsumsi suplemen zat besi untuk mengimbangi kekurangan darah tadi.
Contoh lain, seorang wanita yang mengalami menopause dan ia menderita osteoporosis, maka ia harus menambah konsumsi Ca (kalsium) agar tulangnya tidak keropos. Tentunya hal ini harus ditambah dengan berolahraga teratur dan menjalani terapi sulih hormon jika diperlukan. Jadi, konsumsi kalsium di sini ditambah atas indikasi.
Pada orang tua memang terjadi kemunduran semua fungsi tubuh, termasuk pencernaan. Pada beberapa orang tua, penyerapan di usus sangat menurun sehingga terjadi kekurangan beberapa zat. Karena itu, tenaganya sangat berkurang, cepat lelah, dan lain-lain. Untuk itu, perlu diberikan suplemen vitamin atau zat-zat tertentu yang tentunya harus direkomendasikan oleh dokter yang memeriksanya.
Apabila dokter tidak menganjurkan konsumsi suplemen, tentunya tidak perlu tambahan suplemen tersebut. Di sini yang sangat berperan adalah ahli gizi dan dokter untuk memberikan petunjuk yang benar mengenai suplemen yang harus dimakan.


Olahraga yang relatif ringan seperti boling, panahan, menembak, tidak membutuhkan kalori yang banyak. Begitu pula olahraga kesehatan, seperti senam aerobik, joging, berenang, lantai, bersepeda (bukan balap sepeda) tidak perlu tambahan suplemen. Jadi, tidak benar apabila memakan suplemen. Cukup dari makanan yang disajikan asal makanan tersebut cukup dari segi kualitas dan kuantitas.
Memang ada perkembangan lain dari ilmu gizi, yaitu penelitian-penelitian terbaru yang menyimpulkan manfaat beberapa zat dalam tubuh, seperti selenium, chroom, dan insulin. Hasil penelitian ini langsung disambut para pembuat suplemen dengan membuat suplemen yang katanya dapat meningkatkan vitalitas, kesegaran jasmani, mengurangi keriput, dan efek lain yang menakjubkan.
Sebenarnya kegunaan zat-zat tersebut harus melalui penelitian yang teliti dan lama sehingga efeknya benar-benar diketahui secara rinci. Begitu pula pada saat ini banyak sekali beredar suplemen yang berisi zat-zat alamiah seperti jamur, rumput laut atau akar-akaran yang katanya bermanfaat bagi tubuh. Akan tetapi, karena bukti-bukti secara ilmiah biasanya belum lengkap, maka bila seseorang mencoba mengonsumsi, tentunya ada risiko terkena keracunan atau efek samping yang tidak dikehendaki.
Dari bidang olahraga prestasi, pada saat ini banyak atlet yang terkena pemeriksaan doping dan hasilnya positif. Padahal, ia tidak pernah makan obat terlarang. Ia hanya makan suplemen yang menurut labelnya aman dari zat doping. Ternyata memang banyak suplemen yang dimasuki zat-zat doping. Untuk itu, Komite Olimpiade Internasional (IOC) mengeluarkan pernyataan untuk berhati-hati mengonsumsi obat-obatan atau suplemen yang dijual bebas, karena sering mengandung zat doping.
Untuk mudahnya, tidak usah memakan suplemen bila tidak ada indikasi yang jelas. Lebih baik cek ke dokter atau ahli gizi agar dapat bertindak dengan benar. Para ahli gizi olahraga pada awal tahun 1990-an pernah mengeluarkan suatu position statement atau peryataan sikap atas pemakaian suplemen.
Isi pernyataan tersebut menyatakan bahwa atlet tidak perlu makan suplemen bila cukup gizi secara kualitas dan kuantitas. Kelebihan vitamin atau suplemen dapat merugikan tubuh dan dapat menurunkan prestasi.
Untuk itu, kiranya atlet perlu mendapatkan penerangan tentang apa yang dimakan sehingga terhindar dari kemungkinan tes doping positif. Untuk orang awam, masalahnya sama saja, tidak perlu suplemen bila tidak diperlukan tubuh
.Manfaat Olahraga
Olahraga sedikitnya 10 menit setiap hari membuat mental menjadi lebih sehat, pikiran jernih, stres berkurang dan memicu timbulnya perasaan bahagia.
Bahwa olahraga membuat peredaran darah menjadi lancar, membakar lemak dan kalori, serta mengurangi risiko darah tinggi dan obesitas merupakan suatu hal yang diketahui umum. Riset terbaru menunjukkan suatu kelebihan lain dari aktivitas ini. Olahraga sedikitnya 10 menit setiap hari membuat mental menjadi lebih sehat, pikiran jernih, stres berkurang dan memicu timbulnya perasaan bahagia.
Secara lebih jelas Daniel Landers, profesor pendidikan olahraga dari Arizona State University mengungkapkan lima manfaat olahraga terhadap otak Anda.
1. Meningkatkan kemampuan otakLatihan fisik yang rutin dapat meningkatkan konsentrasi, kreativitas, dan kesehatan mental. Karena olahraga bisa meningkatkan jumlah oksigen dalam darah dan mempercepat aliran darah menuju otak. Para ahli percaya bahwa hal-hal ini dapat mendorong reaksi fisik dan mental yang lebih baik.
2. Membantu menunda proses penuaan Riset membuktikan bahwa latihan sederhana seperti jalan kaki secara teratur dapat membantu mengurangi penurunan mental pada wanita di atas 65 tahun. Semakin sering dan lama mereka melakukannya makan penurunan mental kian lambat. Kabarnya, banyak orang merasakan manfaat aktivitas itu setelah sembilan minggu melakukannya secara teratur tiga kali seminggu. Latihan ini tidak harus dilakukan dalam intensitas tinggi. Cukup berupa jalan kaki di sekitar rumah.
3. Mengurangi stresOlahraga dapat mengurangi kegelisahan. Bahkan lebih jauh lagi, bisa membantu Anda mengendalikan amarah. Latihan aerobik dapat meningkatkan kemampuan jantung dan membuat Anda lebih cepat mengatasi stres. Aktivitas seperti jalan kaki, berenang, bersepeda, dan lari merupakan cara terbaik mengurangi stres.
4. Menaikkan daya tahan tubuh Jika Anda senang melakukan olahraga meski tak terlalu lama namun sering atau lama namun dengan santai melakukannya, maka aktivitas itu bisa meningkatkan hormon-hormon baik dalam otak seperti adrenalin, serotonin, dopamin, dan endorfin. Hormon ini berperan dalam meningkatkan daya tahan tubuh. Studi yang dilakukan di Inggris memperlihatkan bahwa 83 persen orang yang memiliki ganguan mental mengandalkan olahraga untuk meningkatkan mood dan mengurangi kegelisahan.
Landers mengatakan untuk orang yang menderita depresi ringan dan sedang, olahraga sedikitnya 16 minggu bisa menimbulkan efek yang sama dengan menelan obat antidepresi seperti Zoloft dan Prozac.
Sementara para peneliti di Duke University menemukan bahwa 60 persen orang depresi yang melakukan olahraga selama empat bulan dengan frekuensi tiga kali seminggu dan setiap latihan selama 30 menit bisa mengatasi gejala ini tanpa obat. Meski tergolong langkah yang mujarab namun bukan berarti pengobatan bisa langsung dihentikan, apalagi bagi yang mengalami depresi berat.
5. Memperbaiki kepercayaan diri .Umumnya semakin mahir seseorang dalam suatu jenis aktivitas, maka kepercayaan diri pun akan meningkat. Bahkan suatu riset membuktikan bahwa remaja yang aktif berolahraga merasa lebih percaya diri dibandingkan dengan teman-temannya yang tidak melakukan kegiatan serupa.




Hubungan aktivitas fisik/ olahraga dengan kesehatan & kebugaran
Aktivitas fisik atau olahraga merupakan bentuk pemberian rangsangan berulang pada tubuh. Tubuh akan beradaptasi jika diberi rangsangan secara teratur dengan takaran dan waktu yang tepat. Proses adaptasi merupakan perubahan struktur dan fungsi tubuh akibat pemberian rangsangan yang berupa latihan fisik selama masa tertentu sampai tubuh memberi respon terhadap rangsangan tersebut.
Takaran latihan yang dianjurkan adalah frekwensi latihan 3-5 kali seminggu, intensitas latihan antar 60-80% denyut dadi maksimal (DNM)=220-umur, Lama laihan berlangsung antara 20-30 menit latihan daya tahan atau aerobic tanpa henti.
Hal hal lain yg perlu diperhatikan dalam suatu proses berlatih adalah tahapan tiap sesi latihan fisik, yaitu latihan pemanasan termasuk latihan peregangan berlangsung 5-10 menit., Latihan inti yaitu denyut nadi dipertahankan minimal 15 menit dalam zona latihan, latihan pendinginan termasuk latihan peregangan selama 5-10 menit.
Mari kita mewujudkan masyarakat Indonesia yang sehat, bugar, berkualitas dan produktif.